Jamaah
Jum’at yang dirahmati Allah,
Merupakan
nikmat yang sangat besar dan tiada tara, bahwa hari ini kita dipertemukan Allah
Azza wa jalla dengan Ramadhan dalam keadaan Islam dan Iman. Dengan pertemuan
ini kita mendapatkan kesempatan besar untuk mendapat ampunan dari Allah SWT,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya sebagai berikut:
Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap
perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)
Maka
ini adalah kesempatan besar, sekaligus nikmat yang agung. Akan tetapi, peluang
besar ini juga menjadi sebuah kecelakaan bagi orang-orang yang
menyia-nyiakannya sehingga ia keluar dari Ramadhan tanpa ampunan dari Rabb-nya.
Maka malaikat Jibril pun mendoakan dengan diamini Rasulullah:
Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia
tidak diampuni (HR. Hakim dan
Thabrani)
Jamaah
Jum’at yang dirahmati Allah,
Ramadhan
kita kali ini bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65. Kita pun
perlu mensyukuri nikmat kemerdekaan itu. Bahwa kemerdekaan itu kita raih di
bulan Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945, para pendahulu kita pun telah
menyatakan bahwa ia merupakan rahmat dari Allah SWT. Di samping itu, sungguh
peristiwa ini menjadi penguat bagi salah satu nama bulan Ramadhan. Yakni
syahrul jihad. Bahwa Ramadhan adalah bulan di saat kaum muslimin memiliki
gairah besar untuk berjihad menegakkan agama Allah, bukan bulan yang
memperlemah umat Islam dalam hari-hari yang penuh kelesuan.
Maka sejarah umat bicara. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan dan kaum muslimin menuai kemenangan yang gemilang. 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap. Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Dan kemenangan jihad ini terjadi di bulan Ramadhan!
Maka sejarah umat bicara. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan dan kaum muslimin menuai kemenangan yang gemilang. 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap. Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Dan kemenangan jihad ini terjadi di bulan Ramadhan!
Enam
tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona. Inilah
penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia. Penaklukan tanpa korban
jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah! Sepuluh ribu pasukan Islam yang
dipimpin oleh Rasulullah memasuki Makkah dengan tenang, menang tanpa
perlawanan. Bukan hanya kemenangan secara fisik yang membuat pasukan Makkah
tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan jiwa sehingga keimanan masuk
ke jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah menggantikan seluruh kekufuran dan
permusuhan mereka. Maka, tak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di
sekeliling ka’bah dihancurkan. Tak ada yang meratapi atau melakukan demontrasi
saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaat sebelum dilenyapkan dari
masjidil haram, Allah telah melenyapkan dari hati mereka. Inilah jihad dan
kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadhan.
650
tahun kemudian juga terjadi peperangan yang dikenal dengan nama Ain Jaluth.
Pasukan Islam melawan pasukan Tartar. Dua tahun sebelumnya Tartar di bawah
pimpinan Hulako Khan telah menyerang Baghdad. Maka, bulan-bulan berikutnya
adalah masa penderitaan dan kekalahan kaum muslimin, jatuhnya Baghdad, serta
terbunuhnya khalifah. Hingga akhirnya jihad dikumandangkan yang terkenal dengan
sebutan Perang Ain Jaluth. Kaum muslimin berhasil menuai kemenangan atas
Tartar. Dan ini juga terjadi pada bulan Ramadhan.
Masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di bulan Ramadhan.
Pada Ramadhan tahun 15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadhan tahun 53 H, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa. Pada bulan Ramadhan tahun 91 H, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Pada Ramadhan tahun 92 H., umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad.
Masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di bulan Ramadhan.
Pada Ramadhan tahun 15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadhan tahun 53 H, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa. Pada bulan Ramadhan tahun 91 H, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Pada Ramadhan tahun 92 H., umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad.
Jamaah
Jum’at yang dirahmati Allah,
Jika
Ramadhan telah menjadi bulan jihad, maka mari kita berdiri untuk memandangi
wajah negeri ini. Sudahkah ia merdeka secara hakiki? Dan sudahkah kita
mendapatkan kemerdekaan hakiki sebagai umat Islam Indonesia?
Kemerdekaan
pertama yang harus dimiliki oleh manusia adalah kemerdekaan dari segala bentuk
peribadatan kepada selain Allah. Jika seorang manusia masih dicekam ketakutan kepada
sesama manusia, atau makhluk lain, lalu bisakah ia disebut merdeka? Padahal
manusia sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.
Jika
dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya
orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia yang kedudukannya lebih
rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, maupun materi seperti harta dan
kekuasaan.
Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan aqidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Sehingga seorang mukmin tidak lagi memiliki kekhawatiran dan ketakutan, ia merdeka!
Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan aqidah. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Sehingga seorang mukmin tidak lagi memiliki kekhawatiran dan ketakutan, ia merdeka!
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu
bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya),
jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran : 139)
Kemerdekaan beraqidah ini tentu saja berimplikasi pada kemerdekaan menjalankan syariat. Maka jika Islam hendak dilaksanakan secara kaffah tetapi justru dihalangi dan dibatasi, sesungguhnya kemerdekaan hakiki belum kita peroleh.
Kemerdekaan beraqidah ini tentu saja berimplikasi pada kemerdekaan menjalankan syariat. Maka jika Islam hendak dilaksanakan secara kaffah tetapi justru dihalangi dan dibatasi, sesungguhnya kemerdekaan hakiki belum kita peroleh.
Jamaah
Jum’at yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan
hakiki berikutnya mensyaratkan kemerdekaan ekonomi dari riba dan kemiskinan
sistemik. Maka kita lihat, selain membangun masjid, Rasulullah di Madinah juga
membangun pasar. Para pebisnis Islam seperti Abdurrahman bin Auf juga bergerak
untuk memerdekakan ekonomi Madinah dari dominasi ribawi Yahudi. Akhirnya,
kehidupan ekonomi membaik. Pelaksanaan zakat yang menjadi salah satu rukun
Islam juga mendukung perekonomian umat, mengurangi kesenjangan dan menciptakan
keharmonisan hubungan dalam bermasyarakat.
Ketika ekonomi terjajah, mudah sekali seseorang atau sebuah negara sekalipun didikte untuk mengikuti segala kemauan pihak yang berkuasa secara ekonomi. Jika keputusan-keputusan hidup kita atau kebijakan negara ini kemudian tidak mandiri melainkan diintervensi asing karena ketergantungan ekonomi, sudahkah kita merdeka? Pada hakikatnya belum. Karena merdeka berarti tidak dipengaruhi oleh siapapun dan bebas menentukan jalan hidup agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Ketika ekonomi terjajah, mudah sekali seseorang atau sebuah negara sekalipun didikte untuk mengikuti segala kemauan pihak yang berkuasa secara ekonomi. Jika keputusan-keputusan hidup kita atau kebijakan negara ini kemudian tidak mandiri melainkan diintervensi asing karena ketergantungan ekonomi, sudahkah kita merdeka? Pada hakikatnya belum. Karena merdeka berarti tidak dipengaruhi oleh siapapun dan bebas menentukan jalan hidup agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.
Jamaah
Jum’at yang dirahmati Allah,
Kemerdekaan
hakiki juga berarti kita merdeka untuk memperbanyak kebaikan sekaligus merdeka
dari anasir-anasir negatif atau kemaksiatan. Hari ini kita mendapatkan fakta
bahwa, muslimah yang berjilbab sebagian masih kesulitan bekerja di tempat
publik dengan alasan jilbabnya; entah itu rumah sakit atau yang lainnya. Masih
ada instansi-instansi yang tidak memberikan kesempatan luas kepada kaum
muslimin untuk melaksanakan shalat tetap pada waktunya. Sebaliknya, kita seakan
dibanjiri dengan berbagai kemaksiatan yang sebagiannya tidak bisa kita hadang
karena masuk dalam wilayah privasi dan menerobos dalam keluarga kita. Media
elektronik yang kaya dengan kemaksiatan namun miskin pendidikan, lokalisasi dan
perjudian yang dilindungi, serta pergaulan bebas yang bahkan difasilitasi
dengan penjualan kondom secara legal benar-benar membuat kemerdekaan tidak
mencapai hakikatnya.
Ibnu
Katsir dalam tafsirnya menyebutkan asbabun nuzul ayat ini. Bahwa ada sebagian
orang makkah yang berislam secara sembunyi-sembunyi. Namun mereka tidak ikut
hijrah ke Madinah. Maka saat perang Badar, mereka dipaksa oleh kafir Quraisy
untuk ikut berperang di pihak mereka. Saat melihat orang dari kelompok ini
terbunuh, sebagian sahabat yang tahu hendak mendoakan mereka, namun Allah SWT
menurunkan ayat ini.
Artinya apa? Kita tidak boleh berdiam diri dalam kelemahan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal. Maka bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam aqidah Islam yang benar, bangkit untuk menjalankan Islam. Bangkit untuk menunjukkan semua potensi kita. Bahwa kita bisa. Bahwa kita, dengan identitas keislaman kita, siap mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai hidup yang mulia dan berazam mendapatkan ridha dan surga-Nya.
Artinya apa? Kita tidak boleh berdiam diri dalam kelemahan. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal. Maka bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam aqidah Islam yang benar, bangkit untuk menjalankan Islam. Bangkit untuk menunjukkan semua potensi kita. Bahwa kita bisa. Bahwa kita, dengan identitas keislaman kita, siap mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai hidup yang mulia dan berazam mendapatkan ridha dan surga-Nya.
oleh : Bp Wakidi
di : masjid Nurul Mukminin
17 Agustus 2012









01.20
Richan Penyalur Hoby
Posted in: 
0 komentar:
Posting Komentar